Menari dengan Bayangan di Sudut Kota
Tentang ketergesaan yang kita sebut produktivitas, dan kesunyian yang menelan kita setiap kali lampu kamar dimatikan.
Di antara aspal basah dan sunyi larut malam, kata-kata adalah benteng terakhir agar kita tak sepenuhnya lenyap ditelan kebisingan dunia.
Monolog batin di pukul tiga pagi saat ego tertidur dan kejujuran menuntut tebusan tanpa kompromi.
Catatan halte bus malam, beton pencakar langit yang acuh, dan jiwa manusia yang terasing di keramaian.
Penerimaan mutlak bahwa segala hal akan berakhir, memberi arti tak ternilai pada setiap tarikan napas.
Tentang ketergesaan yang kita sebut produktivitas, dan kesunyian yang menelan kita setiap kali lampu kamar dimatikan.
Mencari tempat berpulang di saat setiap alamat yang kita singgahi perlahan runtuh menjadi kenangan asing.
Sebuah penerimaan atas kerapuhan manusia di bawah langit yang tak peduli dengan keluhan kita.
Dialog batin tanpa sensor ketika ego tertidur dan kejujuran menuntut tebusan.